cloudsans

“먹구름”

#Ethereal #STSG – One cannot exist without another.

“One cannot exist without another” —but they as well, cannot exist together.

“Such a cruel, cruel world...” he said while showing me his painful-yet-pretty-smile to me, right before he shut his eyes and never comeback. His last gaze, his last voice, his last smile… Why should all of it ends in a hurtful way? I can still hear his voice calling my name in the way where any other people couldn’t say it the way he calls my name. The hell I did in my past life to receive this fate? God, I pray to you to make him stay. But the final is, I end up didn’t have the right to be with him, right? “Ah, what a cruel, cruel world...” I said while recalling the same words that’s been lingering in my mind after he’s gone. How do I describe this pain? Pardon me if I’m being lousy cause I am. That’s why I’m asking, how do I describe this pain again? Wake up in the morning with no guts to live, faking smile, forcing myself to put a smile on my face when deep down inside, I’m dying. So tell me, how the hell I could bear this life without a soul?

“One cannot exist without another” —but they as well, cannot exist together. So maybe, just maybe, if God permit... In another life, let’s be together.

—cloudsans December 12th, 2023 / 15.27

#WordsUnsaid – You Gave Us Up.

Rasanya kejam banget kalau kamu bilang kita ngga pernah ada. Jadi… buat kamu, kita hanya sebatas itu?

Kalau saja saya bisa bilang seperti itu ke kamu saat ini, kamu akan bagaimana? Kata-kata, “I won’t give up on us” yang selalu kamu bilang ke saya itu maksudnya apa? Cuma kata-kata asal yang kamu ucapkan supaya saya bisa tenang? Supaya saya ngga perlu kemana-mana dan tetap sama kamu, supaya saya bisa menanamkan dalam hati dan pikiran saya kalau “kamu adalah akhir yang akan aku tuju—kita adalah akhir yang aku mau”. Saya merasa lucu ketika kamu dengan segala impian yang kamu bagikan kepada saya, dengan mudahnya kandas begitu saja disaat saya sudah mulai yakin kalau mimpi itu bukan sekedar angan-angan kosong.

Hidup betul-betul lucu.

Kemudian saat ini saya merasa benar-benar bodoh sudah menghabiskan sekian banyak tahun hanya untuk mendapatkan ending yang berbanding terbalik dengan apa yang kamu janjikan. Iya, saya paham betul kalau saya tidak bisa menyalahkan kamu disini, karena semua selalu kembali pada takdir, bukan? Lalu apa saya harus marah dengan takdir yang Tuhan berikan pada cerita kita?

—cloudsans 30 Mei 2023

#Ethereal #STSG – Bukan Orang Lain, Kan?

“Jo! Gojo!” 5 detik masih tidak disahuti.

“Heh! Gojo!” Lagi, tetap tidak digubris juga.

Laki-laki tinggi bersurai putih itu tetap bergeming, tidak berniat mengindahkan panggilan dari sahabat semata wayangnya yang sudah sedari tadi memanggil nama depannya. Dalam hati si surai putih merutuki panggilan sahabatnya, “Udah dibilangin gue ngga bakalan nengok kalau lo tetep manggil gue pake nama depan, kaya orang lain aja.” Sedikit berlari kecil demi mengejar Satoru yang berjalan cepat—sepertinya si mata biru sengaja menghindarinya. Lengan Suguru lantas merangkul pundak sahabatnya begitu dia berjalan sejajar di samping Satoru.

“Tungguin gueee, Gojooo.”

“Apaan sih, bacot.” Dengan malas, Satoru merespon Suguru sambil menepis rangkulannya itu.

“Kenapa sih lo pagi-pagi udah sewot? PMS?” Bercandaan seperti ini sering dilontarkan oleh Suguru maupun Satoru jika salah satu dari mereka sudah mulai bertingkah konyol. Namun lawan bicaranya tak juga kunjung menyahuti, bahkan saat ini dia sudah berjalan mendahului Suguru (lagi).

“Woooy~ Jo Gojo!”

“Ck. Apaan tuh, ‘Gojo Gojo’?” Suguru diam. Memperhatikan sahabatnya yang terus menggerutu sambil berjalan menunduk. Memiringkan kepalanya, Suguru kemudian tampak mengerti. Sepersekian detik kemudian, Suguru membuka mulutnya guna memanggil sahabatnya lagi.

“Sat, woy! Tungguin gue napa!” Berhasil, Satoru berhenti dan menoleh ke arah Suguru berada. Suguru tetap diam disana hingga Satoru gemas dan berjalan berbalik menuju si surai hitam itu.

“Ayo buru. Ngapain malah diem si? Sakit?” Satoru menurunkan kacamata hitamnya dan memperkecil jarak mereka sedikit guna melihat Suguru lebih jelas. Memeriksa suhu tubuh Suguru dengan meletakkan telapak tangannya di dahi sahabatnya itu dan membandingkannya dengan dirinya sendiri. Tidak, Suguru tidak sakit. Suhu tubuhnya normal.

“Gue mules anjir, Sat.”

“Apaan cuma sarapan bubur ayam semangkok aja mules. Siluman burung lo yak,” Tidak ada nada protes walaupun kata-katanya terdengar seperti sebuah hardikkan. Dan yang diledekpun tidak bereaksi apa-apa selain meringis menahan perutnya yang bergejolak. “…ngerepotin aja lo pake mules segala!” Kemudian Satoru merangkul Suguru dan membawa kepala Suguru kedalam kukungannya dan menjitak sedikit kepala si surai hitam. Sudah terlalu jauh dari rumah dan masih lumayan jauh dari sekolah juga.

“Bangsaaat, sakit begooo!” Umpat Suguru sambil mengelus kepalanya sendiri yang terasa nyut-nyutan habis terkena jitakan Satoru.

“Terserah lo mau manggil gue Bangsat kek, asal bukan Gojo.” Soalnya lo ‘kan bukan orang lain, Sug. Tentu saja kalimat ini tidak Satoru ucapkan. Namun memang dasarnya Suguru yang terlalu peka, jadi dia paham betul maksud Satoru.

Suguru berani bersumpah kalau air muka sahabatnya saat ini sudah jauh lebih baik. Suguru berani bersumpah kalau dia lebih baik melihat sahabatnya tersenyum jahil lagi. Suguru... berani bersumpah kalau dia akan terus bersama Satoru—sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri—sampai mati.

—cloudsans 11 September 2024 / 10.53

#Ethereal #STSG – Shit.

How cruel is it when fate didn’t go as I please? I heard them whispering, such a downy whisper ‘till it could slate my skin open. “They looked happy, but— Could they be really happy?” Ah… shit. Here we go again. This agony I can’t even face alone since you’ve been here with me for all of my good and bad times. Now all I have is its lingering feeling I don’t want to feel because it terrifies me so much. I hate this feeling, I hate this fate, But I don’t resent you. I am on your side since the very first day we’ve met and you knew it too, right? There’s just so much things I want to tell you… But again, all I can say is I’m sorry. I’m sorry for hating myself, I’m sorry for choosing this fate, And I’m sorry that I let you facing those misery on your own where I should be there with you in the first place. Now that my time has come, and I can finally see you again. I’m going home, my friend. I’m going home, so let’s be happy together.

Yes, satosugu it is.

—cloudsans October 16th, 2023 / 14.55

#Ethereal

Nanami.

Kamu memilih jalan lain dengan menjadi orang biasa, melakukan hal-hal yang menyibukkan dirimu dari kalutnya bayangan itu—saat dimana kamu harus menyaksikkan di depan matamu bagaimana satu-persatu orang disekitarmu pergi. Dunia tidaklah adil. Kamu menjadi begitu terpaku dengan waktu, 8 jam sehari menghabiskan setiap detik di depan layar dan mengamini semua perintah atasanmu yang kemudian kamu pahami bahwa apa yang didapat tidak sebanding dengan dedikasimu. Masih, dunia tidaklah adil.

Kamu kembali. Pertimbangan sana-sini sudah kamu perhitungkan pasti. Berharap bahwa kali ini dedikasimu akan dihargai. Bergerak sebagaimana hatimu ingini. Mungkin bagimu kali ini pilihanmu sudah tepat, bukan? Apalagi disana kamu menemukan senyum serupa dengan cerahnya yang Haibara miliki. Lagi, kamu selalu mendahulukan semua diatas dirimu sendiri. Lalu, seperti ini caramu bersikap adil pada dirimu sendiri?

Kamu kembali. Membayangkan lautan luas dengan langit biru membentang diatasnya. Merentangkan tangan merasakan bagaimana angin menyapa setiap inci dirimu—seluruhmu—seraya memberikan perasaan tenang. Senyuman yang sudah lama tidak terlihat, saat ini tidak pernah lagi terlepas. Terukir indah pada pahatan wajahmu seolah berkata “Aku sudah bahagia”.

Kali ini, kamu kembali. Menutup semua buku dan kekosongan yang tidak pernah terisi. Atau mungkin tujuanmu sudah kamu penuhi? Tidak ada yang tahu, bahkan semua lagi-lagi kamu pendam sendiri. Nanami, kali ini… Apakah dunia masih tidaklah adil?

—cloudsans 24 November 2023 / 11.10

#REminiscene – God Speed, Katanya.

Hari itu terik namun angin berhembus kencang. Siapa yang menyangka aku akan menghadapi sekali lagi kepergian dari orang yang kuanggap penting dalam hidupku? Siang itu, aku duduk di teras rumahmu, teduh. Tidak begitu perduli dengan orang-orang yang berlalu-lalang membagikan dukanya. Kolase waktu yang kita habiskan bersama tiba-tiba berputar dikepalaku sampai menimbulkan rasa sakit. Aku memlilih untuk bersandar pada tembok abu-abu dan memejamkan mataku.

Mengira sakit kepalaku akan mereda, namun ternyata bayangan tentangmu tergambar semakin jelas seolah-olah saat ini kamu sedang duduk disudut lain sebelah sana, mendung, memetik senar gitarmu sambil menggumamkan sebuah lagu kesukaanku—Yellow milik Coldplay. Ah, sialnya aku malah ikut bergumam di siang yang terik itu.

Rasanya tidak adil kamu pergi secepat itu. Padahal semua waktu yang kita habiskan bersama begitu berharga. Banyak bahagia yang kamu berikan untukku, aku ingat itu. Namun seiring berjalannya waktu, semakin hari kenangan itu semakin kabur. Aku mulai kehilangan cerah senyummu, sorot matamu yang sendu, lupa bagaimana caramu memanggil namaku, dan seperti apa suaramu saat bernyanyi lagu kesukaanku. Bisakah kamu muncul ke mimpiku sekali saja? Kamu sudah bahagia, mungkin? Tapi itu harapku selalu, dari dulu.

Sudah berapa tahun berlalu sejak saat itu? Aku masih bisa mengingat suasana hari itu, semua detailnya bahkan baju warna apa yang aku kenakan hari itu. Hei, kamu tahu? Aku sudah tumbuh melebihi umurmu sekarang. Haha… Sering terpikirkan, bagaimana bisa kamu memiliki cara berpikir seperti itu, dahulu? Sosok menyenangkan, sosok teduh, orang yang bisa membuatku nyaman. Kamu sudah melalui apa saja, sampai hari terakhir kita bertemu sebelum semua menjadi asing? Kamu sudah melalui apa saja, sampai hari pertama kita bertemu lagi setelahnya? Kamu sudah melalui apa saja, sampai kamu akhirnya pergi lebih dulu selama-lamanya?

Aku masih berhutang peluk, kan?

Maaf… Bahkan setelah berkali-kali, aku masih tidak bisa memenuhi itu.

Nanti, kita bertemu lagi, ya?

—cloudsans 19 Desember 2023 / 11.09

#REminiscene – A Favor.

“Bahagia terus ya…”

Aku tidak sanggup untuk merespon permintaannya yang pilu. Sebuah permintaan satir dengan kemungkinan besar tidak bisa aku tepati. Mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan serta hembusan napas yang lebih terdengar seperti nyawa yang sudah diatas kepala, rasanya duniaku sudah hancur bersamaan dengan detik ketika tautan jarinya perlahan melemah dalam genggamanku. Aku bahkan tidak bisa menatap matanya disaat-saat terakhir sebelum dia pergi.

Bahagia. Bagaimana caranya?

Katanya, aku tidak boleh menangis terlalu lama kalau dia pergi. Saat itu aku hanya tersenyum menanggapi permintaannya, karena aku sendiri tidak bisa memikirkan apa yang akan aku lakukan ketika hari itu benar-benar datang. Memang manusia mana yang bisa merencanakan bagaimana harus bertindak ketika menghadapi perpisahan? Yang bisa terpikirkan olehku hanyalah, aku mau membuat banyak kenangan indah selagi dia masih ada di sisiku. Sebelum Tuhan akhirnya mengambilnya kembali untuk selama-lamanya.

Setiap detik aku selalu merekam semua teduh dan redup wajahnya di dalam memoriku agar bisa kuputar lagi suatu saat kalau aku rindu. Sebisa mungkin menaruhnya dengan rapi agar tidak tergeser oleh ingatan lainnya. Aku mau mengingat kalau dia adalah seseorang yang begitu berharga. Rasanya… dia baik-baik saja saat ini. Dengan senyuman cerahnya dan kata-kata lucu yang dia lontarkan kepadaku, membuatku melupakan apa yang bisa saja tiba-tiba aku hadapi. Rasa takut yang selama ini aku acuhkan. Aku lupa kalau dia sedang berjuang; berjuang untuk mewujudkan keinginanku agar dia selalu ada bersamaku. Seolah dia bisa membaca pikiranku—membuat kenangan bahagia sebanyak mungkin saat masih bisa bersama—tanpa perduli apa yang akan kami hadapi.

Dia berhasil mengelabui perasaanku sampai aku lupa dan tidak menyangka kalau kepergiannya… akan datang secepat ini. Matanya sudah terpejam sepenuhnya, beserta sebuah senyuman manis yang sangat aku sukai menghiasi wajahnya yang teduh. Dia benar-benar sudah pergi membawa senyumku dalam ingatannya. Sebagai senyumku yang dia lihat untuk terakhir kalinya.

Jadi, kamu memintaku untuk bahagia sambil tersenyum seperti ini? Jangan khawatir, aku bisa.

—cloudsans 26 April 2021 / 10:02

#FlowerProject – Acacia (renewal, fortitude and pureness throughout the world).

Demi Tuhan, aku cuma meminta cinta yang sederhana. Kisah yang tidak terlalu rumit, namun cukup untuk membuatku menantikan “Akan ada cerita apa di hari esok?” setiap malam hari sebelum aku tertidur. Kisah yang tidak begitu manis—bagi orang lain—tapi cukup untuk menciptakan perasaan geli di dalam perutku setiap kali kita bersitatap. Kisah sederhana, yang tidak memerlukan tinggi untuk bisa melihat indah, Tidak harus jauh untuk bisa menikmati sepi, Bahkan tidak harus selalu pagi untuk bisa menikmati matahari.

Demi Tuhan, Aku cuma meminta cinta yang sederhana. Asal ada kamu di dalamnya, bersamaku, selamanya. Dan itu… sudah lebih dari cukup.

—cloudsans 01 April 2024 / 09:56

#REminiscene #FlowerProject – Bittersweet (truth and platonic love).

Saya masih ngga bisa ngelepasin kamu. Iya, saya tau dengan kamu yang masih ada dihati dan pikiran saya cuma akan menahan langkah saya untuk maju. Tadinya saya pikir udah ngga apa-apa dengan ketidakadaan kamu. Tapi, semakin saya sadari.. saya malah semakin ngga bisa ngelupain kamu.

Kamu tau? Orang yang pertama kali bikin saya jatuh sejatuh-jatuhnya, orang yang pertama kali ngebuat saya mau membuka hati, yang berhasil meyakinkan saya kalau ngga apa-apa sesekali bersandar sama orang lain... Itu kamu. Dan ya, kamu tau.

Terlalu banyak perasaan yang muncul saat kamu memilih untuk pergi. Tetapi, bahkan dengan rasa sayang sebesar itu aja saya ngga bisa nahan kamu.

Pada akhirnya cuma satu kata maaf yang bisa saya ucapin, tanpa kamu tau arti dibalik kata maaf yang saya ucapin; Maaf udah menahan kamu terlalu lama disaat saya sadar kalau kamu bisa pergi kapan aja. Maaf karena saya berpura-pura kalau kita baik-baik aja saat pekatnya kabut abu-abu mengelilingi kita. Maaf karena saya diam saat kamu menangis. Maaf, karena saya lebih memilih untuk menangis setelah kamu pergi.

—cloudsans 27 Maret 2024 / 08.13

#ShortStory – Sore.

Lagunya sama sekali bukan lagu sedih. Dimulai dengan petikan gitar yang menenangkan hati, mengajak imajinasi untuk berada disebuah tepian danau yang airnya tenang. Tidak ada siapa-siapa disana, jauh dari keramaian. Hanya damai.

Kemudian, liriknya dimulai dengan, “There’s no life, without love they say. None worth having anyway. You’re a mystery to me some days. That’s what keeps me sane”. Sudah kelihatan ‘kan lagu tentang apa? Benar-benar lagu yang menyejukkan hati. Seraya menjelaskan bahwa semua orang, bisa menjadi “rumah” bagi orang lain. Bahwa ada seseorang yang menganggap kita sebegitu berharganya sehingga dijadikan rumah untuk pulang.

Suara gitar masih terus mendominasi lagu yang berjudul “Home” itu, benar-benar petikan ringan yang bisa kita nikmati sambil menyesapi seluruh lirik yang dinyanyikan Bruno Major itu. Rasanya masih tenang sampai tiba di menit ke 02:14, ketika suara piano mulai mendominasi ruang telinga, dan liriknya berubah dari menenangkan menjadi seperti ini :

“And I know I’ve made mistakes at times Every now and then I’ve made you cry For that I’m sorry They were few and far between We’re closer now than we’ve ever been You know I’m sorry”

Hidup selalu tentang naik dan turun. Bahkan kita tidak tahu, pelajaran apa yang mau diberikan hidup untuk kita ini. Tetapi, rasanya kita bisa melewati hal sesulit apapun ketika kita punya seseorang yang terus mendukung dan selalu mendo’akan untuk kemudahan kita. Dan kita tahu bahwa sejauh apapun hidup ini membawa langkah kaki kita, sekeras apapun kesulitan yang ada, pada akhirnya kita akan selalu butuh untuk kembali pulang.

Kita perlu untuk pulang.

—cloudsans 9 Juni 2021 / 16:55