#Ethereal #STSG – Bukan Orang Lain, Kan?

“Jo! Gojo!” 5 detik masih tidak disahuti.

“Heh! Gojo!” Lagi, tetap tidak digubris juga.

Laki-laki tinggi bersurai putih itu tetap bergeming, tidak berniat mengindahkan panggilan dari sahabat semata wayangnya yang sudah sedari tadi memanggil nama depannya. Dalam hati si surai putih merutuki panggilan sahabatnya, “Udah dibilangin gue ngga bakalan nengok kalau lo tetep manggil gue pake nama depan, kaya orang lain aja.” Sedikit berlari kecil demi mengejar Satoru yang berjalan cepat—sepertinya si mata biru sengaja menghindarinya. Lengan Suguru lantas merangkul pundak sahabatnya begitu dia berjalan sejajar di samping Satoru.

“Tungguin gueee, Gojooo.”

“Apaan sih, bacot.” Dengan malas, Satoru merespon Suguru sambil menepis rangkulannya itu.

“Kenapa sih lo pagi-pagi udah sewot? PMS?” Bercandaan seperti ini sering dilontarkan oleh Suguru maupun Satoru jika salah satu dari mereka sudah mulai bertingkah konyol. Namun lawan bicaranya tak juga kunjung menyahuti, bahkan saat ini dia sudah berjalan mendahului Suguru (lagi).

“Woooy~ Jo Gojo!”

“Ck. Apaan tuh, ‘Gojo Gojo’?” Suguru diam. Memperhatikan sahabatnya yang terus menggerutu sambil berjalan menunduk. Memiringkan kepalanya, Suguru kemudian tampak mengerti. Sepersekian detik kemudian, Suguru membuka mulutnya guna memanggil sahabatnya lagi.

“Sat, woy! Tungguin gue napa!” Berhasil, Satoru berhenti dan menoleh ke arah Suguru berada. Suguru tetap diam disana hingga Satoru gemas dan berjalan berbalik menuju si surai hitam itu.

“Ayo buru. Ngapain malah diem si? Sakit?” Satoru menurunkan kacamata hitamnya dan memperkecil jarak mereka sedikit guna melihat Suguru lebih jelas. Memeriksa suhu tubuh Suguru dengan meletakkan telapak tangannya di dahi sahabatnya itu dan membandingkannya dengan dirinya sendiri. Tidak, Suguru tidak sakit. Suhu tubuhnya normal.

“Gue mules anjir, Sat.”

“Apaan cuma sarapan bubur ayam semangkok aja mules. Siluman burung lo yak,” Tidak ada nada protes walaupun kata-katanya terdengar seperti sebuah hardikkan. Dan yang diledekpun tidak bereaksi apa-apa selain meringis menahan perutnya yang bergejolak. “…ngerepotin aja lo pake mules segala!” Kemudian Satoru merangkul Suguru dan membawa kepala Suguru kedalam kukungannya dan menjitak sedikit kepala si surai hitam. Sudah terlalu jauh dari rumah dan masih lumayan jauh dari sekolah juga.

“Bangsaaat, sakit begooo!” Umpat Suguru sambil mengelus kepalanya sendiri yang terasa nyut-nyutan habis terkena jitakan Satoru.

“Terserah lo mau manggil gue Bangsat kek, asal bukan Gojo.” Soalnya lo ‘kan bukan orang lain, Sug. Tentu saja kalimat ini tidak Satoru ucapkan. Namun memang dasarnya Suguru yang terlalu peka, jadi dia paham betul maksud Satoru.

Suguru berani bersumpah kalau air muka sahabatnya saat ini sudah jauh lebih baik. Suguru berani bersumpah kalau dia lebih baik melihat sahabatnya tersenyum jahil lagi. Suguru... berani bersumpah kalau dia akan terus bersama Satoru—sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri—sampai mati.

—cloudsans 11 September 2024 / 10.53