#Ethereal – tentang Satoru yang sudah pergi, Bukan Salah Suguru.
in another life, please... let us be together.
and I just want you guys to remember this :
“None of what happened was Suguru's fault.”
—cloudsans September 30th, 2024 / 16.16
#Ethereal – Denting.
Kalau kamu baca pesan ini, tolong hubungi aku, ya? Kamu perginya kejauhan, Gim.. Jadi ini ya alasan kamu untuk ngga janjiin aku apa-apa? Ya, karena kamu memang ngga bisa kasih aku komitmen apapun. Bohong kalau aku ngga ngerasain apa-apa ke kamu. Bohong kalau aku ngga berharap apa-apa sama semua waktu yang udah kita lewatin bareng-bareng. Bohong kalau aku ngga berharap sama kamu. Aku.. cuma kangen kamu, Gim.. Sama seperti kamu, aku ngga akan nuntut apa-apa. Tapi, bisa kan kamu balik kesini lagi?
—cloudsans 10 Februari 2023 / 10.34
#Ethereal – tentang Satoru yang sudah pergi, I'll be fine.
and there I stood in the place where we first met almost dying yet I managed to survive stronger than ever
—cloudsans May 18th, 2024 / 18.31
#Ethereal – tentang Satoru yang sudah pergi, dari kami.
kamu adalah orang yang paling banyak membuat kami tertawa. setiap harinya hanya nada bahagia yang kami dengarkan. kamu, selalu berikan bahagia setara setiap harinya selama kamu ada; sehingga kehilanganmu menjadi luka terbesar bagi kami. setiap harinya hanya sendu. nada kelabu yang terus terputar sampai memekakkan telinga. namun kami ulang selalu nada itu, karena sudah habis rasa bahagia itu tanpa kamu.
—cloudsans 29 September 2024 / 01.40
#Ethereal – tentang Satoru yang sudah pergi, 29 September.
padahal sudah setahun yang lalu kamu pergi. tapi semenjak hari itu, rasanya kamu mati setiap hari.. rasa remuk hancur leburnya saat kehilanganmu, masih aku rasakan sebesar itu. setiap hari. hingga detik ini.
—cloudsans 29 September 2024 / 01.06
#Ethereal #STSG – One cannot exist without another.
“One cannot exist without another” —but they as well, cannot exist together.
“Such a cruel, cruel world...” he said while showing me his painful-yet-pretty-smile to me, right before he shut his eyes and never comeback. His last gaze, his last voice, his last smile… Why should all of it ends in a hurtful way? I can still hear his voice calling my name in the way where any other people couldn’t say it the way he calls my name. The hell I did in my past life to receive this fate? God, I pray to you to make him stay. But the final is, I end up didn’t have the right to be with him, right? “Ah, what a cruel, cruel world...” I said while recalling the same words that’s been lingering in my mind after he’s gone. How do I describe this pain? Pardon me if I’m being lousy cause I am. That’s why I’m asking, how do I describe this pain again? Wake up in the morning with no guts to live, faking smile, forcing myself to put a smile on my face when deep down inside, I’m dying. So tell me, how the hell I could bear this life without a soul?
“One cannot exist without another” —but they as well, cannot exist together. So maybe, just maybe, if God permit... In another life, let’s be together.
—cloudsans December 12th, 2023 / 15.27
#Ethereal #STSG – Bukan Orang Lain, Kan?
“Jo! Gojo!” 5 detik masih tidak disahuti.
“Heh! Gojo!” Lagi, tetap tidak digubris juga.
Laki-laki tinggi bersurai putih itu tetap bergeming, tidak berniat mengindahkan panggilan dari sahabat semata wayangnya yang sudah sedari tadi memanggil nama depannya. Dalam hati si surai putih merutuki panggilan sahabatnya, “Udah dibilangin gue ngga bakalan nengok kalau lo tetep manggil gue pake nama depan, kaya orang lain aja.” Sedikit berlari kecil demi mengejar Satoru yang berjalan cepat—sepertinya si mata biru sengaja menghindarinya. Lengan Suguru lantas merangkul pundak sahabatnya begitu dia berjalan sejajar di samping Satoru.
“Tungguin gueee, Gojooo.”
“Apaan sih, bacot.” Dengan malas, Satoru merespon Suguru sambil menepis rangkulannya itu.
“Kenapa sih lo pagi-pagi udah sewot? PMS?” Bercandaan seperti ini sering dilontarkan oleh Suguru maupun Satoru jika salah satu dari mereka sudah mulai bertingkah konyol. Namun lawan bicaranya tak juga kunjung menyahuti, bahkan saat ini dia sudah berjalan mendahului Suguru (lagi).
“Woooy~ Jo Gojo!”
“Ck. Apaan tuh, ‘Gojo Gojo’?” Suguru diam. Memperhatikan sahabatnya yang terus menggerutu sambil berjalan menunduk. Memiringkan kepalanya, Suguru kemudian tampak mengerti. Sepersekian detik kemudian, Suguru membuka mulutnya guna memanggil sahabatnya lagi.
“Sat, woy! Tungguin gue napa!” Berhasil, Satoru berhenti dan menoleh ke arah Suguru berada. Suguru tetap diam disana hingga Satoru gemas dan berjalan berbalik menuju si surai hitam itu.
“Ayo buru. Ngapain malah diem si? Sakit?” Satoru menurunkan kacamata hitamnya dan memperkecil jarak mereka sedikit guna melihat Suguru lebih jelas. Memeriksa suhu tubuh Suguru dengan meletakkan telapak tangannya di dahi sahabatnya itu dan membandingkannya dengan dirinya sendiri. Tidak, Suguru tidak sakit. Suhu tubuhnya normal.
“Gue mules anjir, Sat.”
“Apaan cuma sarapan bubur ayam semangkok aja mules. Siluman burung lo yak,” Tidak ada nada protes walaupun kata-katanya terdengar seperti sebuah hardikkan. Dan yang diledekpun tidak bereaksi apa-apa selain meringis menahan perutnya yang bergejolak. “…ngerepotin aja lo pake mules segala!” Kemudian Satoru merangkul Suguru dan membawa kepala Suguru kedalam kukungannya dan menjitak sedikit kepala si surai hitam. Sudah terlalu jauh dari rumah dan masih lumayan jauh dari sekolah juga.
“Bangsaaat, sakit begooo!” Umpat Suguru sambil mengelus kepalanya sendiri yang terasa nyut-nyutan habis terkena jitakan Satoru.
“Terserah lo mau manggil gue Bangsat kek, asal bukan Gojo.” Soalnya lo ‘kan bukan orang lain, Sug. Tentu saja kalimat ini tidak Satoru ucapkan. Namun memang dasarnya Suguru yang terlalu peka, jadi dia paham betul maksud Satoru.
Suguru berani bersumpah kalau air muka sahabatnya saat ini sudah jauh lebih baik. Suguru berani bersumpah kalau dia lebih baik melihat sahabatnya tersenyum jahil lagi. Suguru... berani bersumpah kalau dia akan terus bersama Satoru—sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri—sampai mati.
—cloudsans 11 September 2024 / 10.53
How cruel is it when fate didn’t go as I please? I heard them whispering, such a downy whisper ‘till it could slate my skin open. “They looked happy, but— Could they be really happy?” Ah… shit. Here we go again. This agony I can’t even face alone since you’ve been here with me for all of my good and bad times. Now all I have is its lingering feeling I don’t want to feel because it terrifies me so much. I hate this feeling, I hate this fate, But I don’t resent you. I am on your side since the very first day we’ve met and you knew it too, right? There’s just so much things I want to tell you… But again, all I can say is I’m sorry. I’m sorry for hating myself, I’m sorry for choosing this fate, And I’m sorry that I let you facing those misery on your own where I should be there with you in the first place. Now that my time has come, and I can finally see you again. I’m going home, my friend. I’m going home, so let’s be happy together.
Yes, satosugu it is.
—cloudsans October 16th, 2023 / 14.55
Nanami.
Kamu memilih jalan lain dengan menjadi orang biasa, melakukan hal-hal yang menyibukkan dirimu dari kalutnya bayangan itu—saat dimana kamu harus menyaksikkan di depan matamu bagaimana satu-persatu orang disekitarmu pergi. Dunia tidaklah adil. Kamu menjadi begitu terpaku dengan waktu, 8 jam sehari menghabiskan setiap detik di depan layar dan mengamini semua perintah atasanmu yang kemudian kamu pahami bahwa apa yang didapat tidak sebanding dengan dedikasimu. Masih, dunia tidaklah adil.
Kamu kembali. Pertimbangan sana-sini sudah kamu perhitungkan pasti. Berharap bahwa kali ini dedikasimu akan dihargai. Bergerak sebagaimana hatimu ingini. Mungkin bagimu kali ini pilihanmu sudah tepat, bukan? Apalagi disana kamu menemukan senyum serupa dengan cerahnya yang Haibara miliki. Lagi, kamu selalu mendahulukan semua diatas dirimu sendiri. Lalu, seperti ini caramu bersikap adil pada dirimu sendiri?
Kamu kembali. Membayangkan lautan luas dengan langit biru membentang diatasnya. Merentangkan tangan merasakan bagaimana angin menyapa setiap inci dirimu—seluruhmu—seraya memberikan perasaan tenang. Senyuman yang sudah lama tidak terlihat, saat ini tidak pernah lagi terlepas. Terukir indah pada pahatan wajahmu seolah berkata “Aku sudah bahagia”.
Kali ini, kamu kembali. Menutup semua buku dan kekosongan yang tidak pernah terisi. Atau mungkin tujuanmu sudah kamu penuhi? Tidak ada yang tahu, bahkan semua lagi-lagi kamu pendam sendiri. Nanami, kali ini… Apakah dunia masih tidaklah adil?
—cloudsans 24 November 2023 / 11.10