cloudsans

ShortStory

#ShortStory – after rain.

aku mulai berpikir tentang bagaimana kamu menyusahkan hari-hariku.

tentang sejak kapan kamu mulai menyelinap masuk ke pikiran ku, dan membuat suasana hatiku menjadi tidak karuan. membuatku selalu melihat notification di semua sosial media ku, hanya untuk mencari tahu apa yang sedang kamu lakukan. membuatku merindukanmu walaupun bisa saja aku melihatmu setiap hari.

ini tidak adil, bagaimana bisa kamu tiba-tiba menjadi prioritas ku setelah sekian lama aku tidak pernah sebahagia ini? tidak, kamu memang tidak pernah mengatakan hal manis seperti, “aku menyukaimu.” atau “kau manis sekali, ayo kita habiskan waktu bersama.” karena aku tahu, kamu bukan orang yang seperti itu. kamu lebih suka mengatakan hal bodoh untuk menunjukkan perhatianmu.

hanya dengan sebaris kata abstrak-ku tentang “kau merindukanku?” dan membaca “kau tahu itu” darimu, atau “aku akan mengajakmu melihat sunrise nanti” malah membuatku menjadi linglung karena sepertinya aku baru saja terbangun dari mimpi. bodoh sekali, hanya dengan kata-kata se sederhana itu, ternyata pada akhirnya aku menaruh bintang besar padamu.

yeah, he’s not kinda prince in every girl’s dream nor mine. but he is real.

-cloudsans 08 Oktober 2016 / 13:53

#ShortStory – Lucu.

“kak. mau ngomong bentar.” “apa?” “wow, fast respon!” “ada apa?” “lagi hectic nggak kak? aku perlu waktu sekitar 5 menit kalau kakak fast respon.” “udah 2 menit kebuang ya, ada apa?” “aku kangen kak. kita harus ketemu malem ini juga. entah aku yang jemput kakak, atau kakak yang kerumah aku.” “😂” “not that emoji dong kak??? iya atau nggak?” “bilang dr tadi kl kangen dong” “udah 4 menit kak.. cepet iyain dulu☹” “kamu kesini naik gojek, nanti kita makan malem. naik motorku aja” “OKAAAAY. jam setengah 6 teng aku sampe di kantor kakak.” “oke, kabari aja chan” “sippp. see you kak. love you, miss you!!” “see you chaan” “MANA LOVE YOU DAN MISS YOU TOO NYA KAK?” “nanti aja ngomong langsung” “KAKKK!!! AKU BLUSHING DULUAN”

—cloudsans 15 November 2023 / 10.20

(sungchan riize, it is.)

#ShortStory – Sore.

Lagunya sama sekali bukan lagu sedih. Dimulai dengan petikan gitar yang menenangkan hati, mengajak imajinasi untuk berada disebuah tepian danau yang airnya tenang. Tidak ada siapa-siapa disana, jauh dari keramaian. Hanya damai.

Kemudian, liriknya dimulai dengan, “There’s no life, without love they say. None worth having anyway. You’re a mystery to me some days. That’s what keeps me sane”. Sudah kelihatan ‘kan lagu tentang apa? Benar-benar lagu yang menyejukkan hati. Seraya menjelaskan bahwa semua orang, bisa menjadi “rumah” bagi orang lain. Bahwa ada seseorang yang menganggap kita sebegitu berharganya sehingga dijadikan rumah untuk pulang.

Suara gitar masih terus mendominasi lagu yang berjudul “Home” itu, benar-benar petikan ringan yang bisa kita nikmati sambil menyesapi seluruh lirik yang dinyanyikan Bruno Major itu. Rasanya masih tenang sampai tiba di menit ke 02:14, ketika suara piano mulai mendominasi ruang telinga, dan liriknya berubah dari menenangkan menjadi seperti ini :

“And I know I’ve made mistakes at times Every now and then I’ve made you cry For that I’m sorry They were few and far between We’re closer now than we’ve ever been You know I’m sorry”

Hidup selalu tentang naik dan turun. Bahkan kita tidak tahu, pelajaran apa yang mau diberikan hidup untuk kita ini. Tetapi, rasanya kita bisa melewati hal sesulit apapun ketika kita punya seseorang yang terus mendukung dan selalu mendo’akan untuk kemudahan kita. Dan kita tahu bahwa sejauh apapun hidup ini membawa langkah kaki kita, sekeras apapun kesulitan yang ada, pada akhirnya kita akan selalu butuh untuk kembali pulang.

Kita perlu untuk pulang.

—cloudsans 9 Juni 2021 / 16:55

#ShortStory – Forgetting You.

Setiap detik yang berjalan tidak terasa apa-apa, tidak ada kenangan lagi. Setelah ini semua berakhir, harus bagaimana aku menjalani hidupku selanjutnya?

“Ingatlah, bahwa aku akan selalu mengingat perasaan ini.”

Sekali saja, aku ingin mendengarmu meminta maaf karena sudah membuat aku menunggumu. Seharusnya kau tidak melakukan itu karena kenyataan bahwa kau hanyalah sebatas mimpi saja sudah sangat menyakitkan. Aku ingin sekali membencimu.

Tapi, setiap kali aku berpikir begitu, kau akan selalu mebawaku kembali ke titik dimana hanya ada kenangan bahagia tentang kau dan aku.

“Bisakah kau menungguku? Aku akan kembali padamu, kau tahu itu kan?”

Berpikir bahwa mungkin aku akan bertemu lagi denganmu, bagaimana jika waktu benar-benar bisa terulang, sama seperti perasaan itu; kebahagiaan, dan kenangan menyakitkan.

“Kau seperti mimpi. aku bisa mengingat perasaan ini bahkan di dalam mimpi.”

Perasaan sakit, bahagia, takut, marah, kenangan tentangmu pernah menjadi bagian penting didalamnya. Tapi saat ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku ingin membencimu. Tapi, aku juga ingin mencintaimu… Lagi.

“Hentikan. Jangan bicara apapun lagi. Aku mengerti dan tolong… jangan lagi berbohong. Karena aku tahu pada akhirnya kau harus pergi, dan akulah yang akan mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu.”

Seperti takdir yang tidak pernah kita tahu akan bagaimana, cerita tentang kitapun sama seperti hujan yang tidak perduli akan jatuh dan berakhir dimana. Satu langkahpun tidak bisa lagi terlihat jejaknya. Sekeras apapun aku mencari arah tentang kemana kenangan tentang kita, takdir sudah menghapusnya.

“Jangan menangis lagi. Aku sudah mengatakan semuanya yang ingin aku katakan. Sekaranglah saatnya, selamat tinggal.”

Satu langkah, dua langkah, perlahan semakin jauh dan kau akan segera menghilang. Bukankah dari awal aku tahu kalau semua ini hanya seperti satu garis kecil? Satu garis yang meniadakan ruang tentang aku dihatimu.

“Ini yang terlakhir kalinya, tolong… dengarkan aku.”

Aku bahkan tidak bisa mendengar kenanganmu lagi. Sudah tidak ada lagi kenangan tentang suaramu yang terekam di otakku, tidak tahu bagaimana suaramu saat memanggil namaku. Sudah pudar bagaimana setiap lekuk wajahmu, jauh sekali bayangan tentang semua senyum yang aku rindukan itu.

“Kau tahu betul cinta seperti apa yang aku berikan. Aku ada disini, dan seperti itulah semua kebohongan ini dimulai.”

Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Kalau aku memejamkan mataku, seharusnya aku bisa melakukannya kan? Lalu kenapa sekarang yang tersisa hanya bayangan hitam dan tidak pernah sedetikpun memunculkan siluet dirimu lagi?

“Maaf. Maaf telah membuatmu menangis.”

Aku membencimu… Sudah seharusnya aku mengatakan itu. Bodohnya, hanya ada satu kata yang bisa keluar dari bibirku.

Aku mencintaimu.

“Karena itu, jangan tanyakan bagaimana kabarku nanti. Aku akan bahagia, meskipun kau tidak ada.”

Tersenyum. Entah karena aku tidak bisa mengingat wajah dan suaramu lagi, atau karena aku telah membiarkan diriku yang kalah? Aku tidak perlu lagi berpura-pura atau bersikeras untuk terus menyimpan rasa itu. Karena pada kenyataannya, satu persatu kenangan tentangmu hilang. Sedikit demi sedikit aku sudah memaafkanmu.

Karena dengan begitu, mungkin suatu saat nanti kenangan tentangmu akan menghilang seluruhnya. Selama-lamanya.

“Aku tidak apa-apa hanya hidup dengan kenangan tentangmu. Sekarang lihat aku. Kita pernah menghabiskan waktu bahagia saat bersama. Ingat itu.”

Tapi hari ini, hanya ada satu hal yang ingin aku lakukan. Aku hanya ingin mengingatmu, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya rindu.

.

“Aku suka mendengar suaramu. Aku akan merekamnya di dalam otakku, karena jika suatu saat nanti aku rindu, aku bisa dengan mudah memutarnya kembali.” “Lalu bagaimana kalau kau merindukan wajahku?” “Tentu saja aku juga akan melukisnya dengan sempurna disitu. Kau tidak perlu khawatir, karena aku tidak mungkin melupakan apapun tentangmu.” “Ah… sepertinya aku sudah berhasil membuatmu sangat menyukaiku.” “Apa aku harus berterimakasih untuk itu?” “Tidak. Aku yang seharusnya mengatakan itu. Terimakasih… terimakasih sudah menjadikanku seseorang yang sangat berarti.” “Terimakasih juga… untuk membiarkan seseorang sepertiku merasakan kebahagiaan besar darimu.”

.

Salah. Semua itu salah. Tidak perlu lagi berharap untuk bisa memutar waktu demi mendapatkan semua kenangan tentangmu kembali. Untuk apa aku melakukannya jika aku sudah berhasil membuangnya sejauh ini? Bukankah ini yang aku inginkan?

Seseorang sepertiku… Tidak akan lagi perduli rasa rindu. Lalu, apa kau tahu bahwa aku sudah melupakan cara untuk merindukanmu lagi? Sejak awal perasaan ini sudah salah, sama seperti takdir itu.

Bertemu denganmu, merasa bahagia, dan menghadapi berbagai macam kenyataan menyakitkan saat kau pergi, sampai pada akhirnya aku harus terpuruk karena merindukanmu.

Kau salah sudah membiarkan seseorang seperti aku menjadi bagian dari hidupmu.

Kau tahu itu?

“Tidak, kau tidak pernah benar-benar tahu.”

—cloudsans 28 November 2016 / 01:14

#ShortStory – Last Trigger.

“Tunggu!” aku berteriak saat dia mencoba melangkahkan kakinya keluar dari tempat ini. Dingin, dan sepi.

“Pasti masih ada cara agar kita bisa selamat. Kalau kita keluar sekarang, aku yakin kita—”

“Hentikan!”

“Aku yakin kita akan sampai ke kota besok pagi dan semua akan baik-baik saja. Aku—”

“Hetikan, Steve!” suaraku terdengar sangat putus asa sekarang. Steve dan aku sama-sama tahu, sekalipun kita berhasil keluar dari sini, mereka akan tetap meluncurkan peluru dari senapan itu kearah kami.

“Pasti kita akan selamat.”

Tidak. Kota ini telah mati.

“Tolong… Hentikan berpura-bura bahwa semua baik-baik saja…” aku masih melihat dadanya naik turun memburu nafas, namun sorot matanya kini mulai meredup. Aku mulai menangis. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkannya membahayakan dirinya, terlebih lagi karena aku.

“Maafkan aku, Steve…”

“Kau ingin menyerah?” dia duduk dihadapanku. Sampai detik ini aku tidak berani menatap matanya. Steve. Dia sangat berarti buatku, dan aku takut kehilangannya. Terlalu takut untuk mengatakan padanya bahwa aku ingin dia tetap bersamaku. Karena itu berarti bebannya akan bertambah dua kali lipat.

“Katakan padaku, apa kau ingin duduk diam disini dan mati?” dia menggenggam tanganku, berharap aku mengatakan sesuatu. Bahkan disaat seperti ini aku masih bisa merasakan cintanya yang begitu besar.

“Kalau kau ingin menyerah, katakan. Karena aku akan tetap duduk diam dan mati disini bersamamu.” Saat itu aku berani menatapnya. Menatap kedua matanya dan terkejut saat melihatnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot rasa takut yang begitu besar dari sana.

“Steve…”

“Tidak apa, Jean. Tidak apa-apa. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau percaya padaku, kan?” aku menganggukkan kepalaku dipelukannya. Semakin mengeratkan pelukanku ketika aku mendengar beberapa tembakkan dari arah luar. Dingin, sepi, hanya ada Steve, aku dan belasan orang-orang yang memegang senapan api—berjalan ke arah kami.

“Ini akan segera berakhir, Jean. Tidak perlu takut. Aku disini.”

Satu kali, dua kali, tiga, dan empat. Terus menerus hingga sampai pada tembakkan yang terakhir. Peluru yang menghujani tubuh kami malam itu membawa Steve dan aku ke tempat yang jauh, sangat jauh dari sini.

—cloudsans 24 November 2016 / 21:20

#ShortStory – Hide and Seek.

“it seems like you’re playing hide and seek with him right now.”

“no. I didn’t play hard to get, okay. but every time I had a conversation with him, I knew that he loves me and it’s clear to see that I love him too. but no one can tell if we can be together. cause we’re different, you know? it’s not just some hide and seek, more like I am the sun and he is the moon. we’re never be together, even though we love each other. we just can’t. okay?!”

—cloudsans September 26th, 2016 / 18:50

#ShortStory – Confession.

“bukan begitu, aku bukannya ingin melihatmu menangis, hanya saja aku benci setiap kali kau tersenyum kepadanya.” “kau cemburu?” “tidak. sama sekali.” “lalu?” “sudah ku katakan alasannya barusan.” “lalu kau mau melihatku bagaimana kalau ada dia?” “tidak. aku tidak ingin yang seperti itu.” “maksudmu?” “aku ingin kau hanya melihatku. bisa ‘kan?” “tolong jangan mengutip dialog lagi, aku tidak mengerti. oke?” “aku tidak mengutip! kau hanya perlu melihatku, dan jangan biarkan hatimu menumbuhkan perasaan suka atau apapun kepadanya. karena aku hanya mengijinkanmu menyukaiku. mengerti?” “oh…. ya Tuhan. apa kau baru saja menyatakan cintamu?” “apa kau mendengar aku mengucapkan kata cinta?” “kau baru saja mengucapkannya.” “terserah. pokoknya, kau harus ingat itu.” “ternyata kau memang menyukaiku, ya? hahahaha”

—cloudsans 22 Agustus 2016 / 00.35

#ShortStory – Failed Dates.

Jakarta, 15 Mei 2015 (20:20) “maaf, sepertinya aku harus pergi” “kenapa? apa yang terjadi?” “aku harus pergi.” “sekarang?” “ya.” “oh, baiklah.”

Jakarta, 30 Mei 2015 (16:30) “ada apa?” “aku harus pergi sekarang.” “pekerjaanmu lagi?” “ya.” “bisakah aku tahu, kau akan kemana kali ini? apa aku boleh ikut bersamamu?” “tidak, kau sama sekali tidak dilarang untuk pergi kesana.” “kalau begitu aku ikut denganmu.” “aku akan mengantarmu pulang.” “kenapa? aku masih ingin bersamamu.” “ini bukan tempat yang baik, okay?”

Jakarta, 20 Augstus 2015 (21:00) “maaf, aku harus-” “lagi?” “maaf.” “wah, hebat sekali. kenapa kencan kita selalu berakhir seperti ini, ya?” “maafkan aku. kita nonton lain kali saja, ya? aku akan mengantarmu pulang.” “tidak usah, aku akan menontonnya. aku bisa naik taksi.” “akan ku telfon kau nanti.”

—cloudsans 18 Mei 2016 / 05:52

#ShortStory – forgotten memories.

halo, memories. apa kabar? bagaimana rasanya dilupakan? apa kau ingin menangis juga, sepertiku? atau kau ingin marah? atau kau malah bahagia? oh ayolah, aku tahu kau sama sakitnya sepertiku. kita sama-sama tidak bahagia. kita sudah dilupakan! dibuang begitu saja. 56 jam yang lalu dia masih bisa berkata manis padamu, tapi setelah dia menemukan memori baru, apa yang dia lakukan? melihat kearahmu saja tidak! menyakitkan? ya. memang seperti itulah rasanya dilupakan, memories.

biar ku beri tahu, kau sudah hancur. kau sudah tiada. kau bukan apa-apa baginya. tidak pernah menjadi apa-apa. tidak pernah menjadi bagian apapun dalam hidupnya, bahkan secuilpun! hahahaha!

ya memories, kau sudah dilupakan. tergantikan. kita sudah tersingkirkan. maka mari kita nikmati hari-hari selanjutnya dengan perasaan menyakitkan seperti sekarang. kita bisa menangis bersama, kalau kau mau. ide bagus, kan? atau kau mau kita membeli es krim hari ini, dan membuat satu cerita hangat tentang apa yang akan dia katakan jika.. seandainya dia masih sama. tidak terlalu buruk, tetapi itu sangat sangat sangat menyakitkan.

baiklah memories, kita tidak berhak menyimpannya lagi. begini saja, bagaimana kalau kau bantu aku untuk menghapusnya? ayolah, seperti yang dia lakukan terhadap kita! kurasa melupakan tidak begitu sulit. kau lihat dia kan? dia sangat bahagia sekarang, setelah dia melupakan kita! jangan menjadi lemah, kita harus kuat. kita hanya dilupakan, tergantikan. kita tidak lagi berarti apa-apa.

dengarkan aku, memories. buang semua chip-mu yang berisi kenangan bodoh yang dia ciptakan. katakan juga pada hati, tolong jangan biarkan dirinya terluka lagi! aku sudah tidak mau lagi membalutnya dengan jahitan disana-sini! dasar bodoh. kalian semua benar-benar bodoh! kan sudah aku bilang, jangan terlalu berharap! sekarang lihat, apa yang terjadi?! hahahaha

oh, tidak, tidak. katakan pada si air mata bodoh itu untuk tetap di dalam sana. jangan biarkan dia melihat keluar dan membuat kita semua semakin berantakan! kalian harus bantu aku. ayolah... jangan menjadi lemah. sudah kubilang, ‘kan, kalau kita ini hanya dilupakan. ini tidak berarti apa-apa! kita lebih kuat dari ini..... seharusnya.

baiklah, kau menang. silahkan kau berlari. sekeras yang kau mau. teriak sepuasnya, dan terserah jika kau memang ingin membuat kita semua menjadi seperti itu. berantakan.

maafkan aku…

maafkan aku…

maaf, karena aku tidak bisa menjaga kalian. maaf karena aku gagal mencegah perasaan bodoh ini. dan maaf, karena aku sekali lagi telah membuat kalian kesusahan. membuat kalian merasakan sakit lagi.

maafkan aku..

—cloudsans 21 April 2016 / 05:18