#REminiscene – A Favor.

“Bahagia terus ya…”

Aku tidak sanggup untuk merespon permintaannya yang pilu. Sebuah permintaan satir dengan kemungkinan besar tidak bisa aku tepati. Mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan serta hembusan napas yang lebih terdengar seperti nyawa yang sudah diatas kepala, rasanya duniaku sudah hancur bersamaan dengan detik ketika tautan jarinya perlahan melemah dalam genggamanku. Aku bahkan tidak bisa menatap matanya disaat-saat terakhir sebelum dia pergi.

Bahagia. Bagaimana caranya?

Katanya, aku tidak boleh menangis terlalu lama kalau dia pergi. Saat itu aku hanya tersenyum menanggapi permintaannya, karena aku sendiri tidak bisa memikirkan apa yang akan aku lakukan ketika hari itu benar-benar datang. Memang manusia mana yang bisa merencanakan bagaimana harus bertindak ketika menghadapi perpisahan? Yang bisa terpikirkan olehku hanyalah, aku mau membuat banyak kenangan indah selagi dia masih ada di sisiku. Sebelum Tuhan akhirnya mengambilnya kembali untuk selama-lamanya.

Setiap detik aku selalu merekam semua teduh dan redup wajahnya di dalam memoriku agar bisa kuputar lagi suatu saat kalau aku rindu. Sebisa mungkin menaruhnya dengan rapi agar tidak tergeser oleh ingatan lainnya. Aku mau mengingat kalau dia adalah seseorang yang begitu berharga. Rasanya… dia baik-baik saja saat ini. Dengan senyuman cerahnya dan kata-kata lucu yang dia lontarkan kepadaku, membuatku melupakan apa yang bisa saja tiba-tiba aku hadapi. Rasa takut yang selama ini aku acuhkan. Aku lupa kalau dia sedang berjuang; berjuang untuk mewujudkan keinginanku agar dia selalu ada bersamaku. Seolah dia bisa membaca pikiranku—membuat kenangan bahagia sebanyak mungkin saat masih bisa bersama—tanpa perduli apa yang akan kami hadapi.

Dia berhasil mengelabui perasaanku sampai aku lupa dan tidak menyangka kalau kepergiannya… akan datang secepat ini. Matanya sudah terpejam sepenuhnya, beserta sebuah senyuman manis yang sangat aku sukai menghiasi wajahnya yang teduh. Dia benar-benar sudah pergi membawa senyumku dalam ingatannya. Sebagai senyumku yang dia lihat untuk terakhir kalinya.

Jadi, kamu memintaku untuk bahagia sambil tersenyum seperti ini? Jangan khawatir, aku bisa.

—cloudsans 26 April 2021 / 10:02