Nanami.
Kamu memilih jalan lain dengan menjadi orang biasa, melakukan hal-hal yang menyibukkan dirimu dari kalutnya bayangan itu—saat dimana kamu harus menyaksikkan di depan matamu bagaimana satu-persatu orang disekitarmu pergi. Dunia tidaklah adil. Kamu menjadi begitu terpaku dengan waktu, 8 jam sehari menghabiskan setiap detik di depan layar dan mengamini semua perintah atasanmu yang kemudian kamu pahami bahwa apa yang didapat tidak sebanding dengan dedikasimu. Masih, dunia tidaklah adil.
Kamu kembali. Pertimbangan sana-sini sudah kamu perhitungkan pasti. Berharap bahwa kali ini dedikasimu akan dihargai. Bergerak sebagaimana hatimu ingini. Mungkin bagimu kali ini pilihanmu sudah tepat, bukan? Apalagi disana kamu menemukan senyum serupa dengan cerahnya yang Haibara miliki. Lagi, kamu selalu mendahulukan semua diatas dirimu sendiri. Lalu, seperti ini caramu bersikap adil pada dirimu sendiri?
Kamu kembali. Membayangkan lautan luas dengan langit biru membentang diatasnya. Merentangkan tangan merasakan bagaimana angin menyapa setiap inci dirimu—seluruhmu—seraya memberikan perasaan tenang. Senyuman yang sudah lama tidak terlihat, saat ini tidak pernah lagi terlepas. Terukir indah pada pahatan wajahmu seolah berkata “Aku sudah bahagia”.
Kali ini, kamu kembali. Menutup semua buku dan kekosongan yang tidak pernah terisi. Atau mungkin tujuanmu sudah kamu penuhi? Tidak ada yang tahu, bahkan semua lagi-lagi kamu pendam sendiri. Nanami, kali ini… Apakah dunia masih tidaklah adil?
—cloudsans 24 November 2023 / 11.10