#ShortStory – forgotten memories.

halo, memories. apa kabar? bagaimana rasanya dilupakan? apa kau ingin menangis juga, sepertiku? atau kau ingin marah? atau kau malah bahagia? oh ayolah, aku tahu kau sama sakitnya sepertiku. kita sama-sama tidak bahagia. kita sudah dilupakan! dibuang begitu saja. 56 jam yang lalu dia masih bisa berkata manis padamu, tapi setelah dia menemukan memori baru, apa yang dia lakukan? melihat kearahmu saja tidak! menyakitkan? ya. memang seperti itulah rasanya dilupakan, memories.

biar ku beri tahu, kau sudah hancur. kau sudah tiada. kau bukan apa-apa baginya. tidak pernah menjadi apa-apa. tidak pernah menjadi bagian apapun dalam hidupnya, bahkan secuilpun! hahahaha!

ya memories, kau sudah dilupakan. tergantikan. kita sudah tersingkirkan. maka mari kita nikmati hari-hari selanjutnya dengan perasaan menyakitkan seperti sekarang. kita bisa menangis bersama, kalau kau mau. ide bagus, kan? atau kau mau kita membeli es krim hari ini, dan membuat satu cerita hangat tentang apa yang akan dia katakan jika.. seandainya dia masih sama. tidak terlalu buruk, tetapi itu sangat sangat sangat menyakitkan.

baiklah memories, kita tidak berhak menyimpannya lagi. begini saja, bagaimana kalau kau bantu aku untuk menghapusnya? ayolah, seperti yang dia lakukan terhadap kita! kurasa melupakan tidak begitu sulit. kau lihat dia kan? dia sangat bahagia sekarang, setelah dia melupakan kita! jangan menjadi lemah, kita harus kuat. kita hanya dilupakan, tergantikan. kita tidak lagi berarti apa-apa.

dengarkan aku, memories. buang semua chip-mu yang berisi kenangan bodoh yang dia ciptakan. katakan juga pada hati, tolong jangan biarkan dirinya terluka lagi! aku sudah tidak mau lagi membalutnya dengan jahitan disana-sini! dasar bodoh. kalian semua benar-benar bodoh! kan sudah aku bilang, jangan terlalu berharap! sekarang lihat, apa yang terjadi?! hahahaha

oh, tidak, tidak. katakan pada si air mata bodoh itu untuk tetap di dalam sana. jangan biarkan dia melihat keluar dan membuat kita semua semakin berantakan! kalian harus bantu aku. ayolah... jangan menjadi lemah. sudah kubilang, ‘kan, kalau kita ini hanya dilupakan. ini tidak berarti apa-apa! kita lebih kuat dari ini..... seharusnya.

baiklah, kau menang. silahkan kau berlari. sekeras yang kau mau. teriak sepuasnya, dan terserah jika kau memang ingin membuat kita semua menjadi seperti itu. berantakan.

maafkan aku…

maafkan aku…

maaf, karena aku tidak bisa menjaga kalian. maaf karena aku gagal mencegah perasaan bodoh ini. dan maaf, karena aku sekali lagi telah membuat kalian kesusahan. membuat kalian merasakan sakit lagi.

maafkan aku..

—cloudsans 21 April 2016 / 05:18