#REminiscene #ShortStory – In The Name of A Friend.
Aku berharap kamu akan menyanyikan satu lagu untukku. Bukan, bukan lagu tentang orang yang sedang jatuh cinta seperti itu. Aku memikirkan tentang lagu seorang anak gembala yang nampaknya selalu bahagia meskipun dia kehabisan stok susu. Tentang bagaimana bisa orang menganggap bahwa semua lagu cinta itu bahagia. Bukankah itu bodoh?
Hey, tidak semua lagu cinta itu bernada tinggi!
Kau dengan gitarmu, dan aku dengan secangkir kopi susu hangatku. Kau dengan satu batang rokok ditengah bibirmu, dan aku dengan satu buah pulpen yang terjepit dijariku. Kau dengan kaus bolong tiga tahunmu, dan aku dengan sweater coklat pudarku.
Semua orang mengira bahwa seharusnya kita dilahirkan dari rahim yang sama. Oh, ayolah itu memang harapan kita, ‘kan?
Semua orang bilang kalau persahabatan kita adalah persahabatan yang terbaik.
Semua orang mengatakan kalau kita seperti semangkuk sop hangat. Perumpamaan yang aneh.
Tapi kukira hanya itu perumpamaan yang normal untuk kita?
Memulai hari dan menyapa malam juga bersamamu, berhasil mengayuhkan sepeda roda dua untuk pertama kalinya bersamamu, dan mencoret-coret kerah baju SMA pun juga bersamamu. 7 tahun. Dan kau adalah orang paling idiot yang mampu bertahan selama itu berteman denganku.
Sampai pada akhirnya, pesawat itu membawamu ke tempat yang jauh diseberang sana. Tempat yang aku tahu merupakan impianmu, tempat yang sempat aku benci karena membuatku tidak bisa mengayuh sepedaku sampai kesana. Tempat yang menyadarkanku bahwa jarak bisa menjadi masalah. Tapi ini impianmu, dan kau adalah sahabatku.
Kemudian yang aku tahu, kau mengirimkanku satu buah foto. Foto sederhana namun sangat sangat membuatku meledak, seorang laki-laki idiot yang sedang lompat dari pesawat, sky diving. Itu yang selalu aku inginkan, dan dia tahu betul mengenai hal ini.
Sialan kau, beraninya pamer seperti ini!
Tapi katanya, bukan itu yang dia maksud. Sampai kemudian aku membaca captionnya.
“Cause of the name of a ‘friend’, we can’t be together.
Cause of the name of a ‘friend’, I have to hide everything.
Hide my deepest fear, my greatest happiness,
And my broken heart.
Do you ever noticed that I look into your eyes a little longer, hold your hand way too tight, and smile a lot brighter when I’m with you?
Don’t you know that I held everything back in my eyes, throw everything away, those that I hold the most just because of the name of a ‘friend’?
I hope you can see right through my eyes that these tears I wont show is because of us. Because of you.
Because I’m in love with you.
Can you hear me?
I’m in love with my best friend.
Silly me and don’t ask why.
Because that’s all we could be.
ㅡflavour – cause of the name of a ‘friend’”
Bodohnya, aku malah membacanya berulang-ulang. Bahkan aku tahu lagu ini dengan baik, lagu yang selalu dia nyanyikan setiap hari sambil menungguku menghabiskan sisa kopi susu. Bodohnya, aku merasakan hatiku mencelos. Seperti orang yang paling bodoh, karena aku baru menyadarinya disaat seperti ini. Bodoh karena mengira hanya aku yang paling menderita atas perasaan ini. Ya, aku juga jatuh cinta. Padanya. Sahabatku sendiri.
Tapi dia adalah sahabatku. Dan aku adalah sahabat terbaik yang dia punya selama ini. Dan memang hanya itulah yang akan terjadi pada kita. Hanya sebatas itu.
***
“Hei kau tahu?”
“Tidak.”
“Apa menurutmu, semua lagu cinta itu selalu bahagia?”
“Yah, bukankah memang seharusnya begitu?”
“Kau yakin?”
“Mana ada orang yang menulis lagu cinta dan bersedih? Kalau sedih namanya bukan lagu cinta!”
“Lagu yang sering aku nyanyikan, Flavour. Ingat?”
“Ya. Uh.. Itu memang agak sedih, sih.”
“Kau tahu sekarang.”
“Tapi, kenapa sih kau suka sekali dengan lagu itu? Kan masih banyak lagu cinta yang bahagia.”
“Entahlah. Mungkin, karena lirik lagunya bagus.”
“Hahaha apa bagusnya jatuh cinta pada sahabat sendiri? Itu akan aneh, kau tahu?”
“Ya. Aku tahu.”
“Memangnya ada ya, orang yang seperti itu? Oh, jangan-jangan kau...”
“Bodoh...”
“Hahaha!”
“Sudah sana masuk! Aku masih belum menghabiskan kopi ku.”
“Wow. Aku diusir rupanya. Baiklah, aku masuk ya. Goodnight!”
“Night.”
***
Malam itu aku mencoba untuk tidak memikirkan hal yang lebih jauh lagi. Percakapan seperti itu harusnya tidak pernah terjadi, karena dia membuatku berpikir bahwa rasa itu benar-benar ada. Aku berpikir bahwa dia bisa saja berbicara begitu karena dia sebenarnya menyayangiku lebih dari seorang sahabat.
Bodohnya, aku membiarkan diriku membuat batas bahwa hubungan ini tidak boleh lebih dari sekedar persahabatan. Karena kenyataannya, tanpa disadari baik perasaanku dan dia sama-sama telah melampaui batas itu.
Lihat kan?
Bukankah sudah aku bilang, bahwa tidak semua lagu cinta itu bahagia?
—cloudsans
19 Februari 2016 / 11:39