#ShortStory – FIN.

Sudah pukul 9 malam saat kami berdua akhirnya bisa menemukan waktu untuk berbicara. Beberapa minggu belakangan ini kami memang jarang bertemu karena pekerjaan kami yang hectic dan benar-benar menyita waktu, sampai jika sekalinya kami menemukan waktu untuk bertemu, kami lebih memilih beristirahat. Ya, saya tahu betul kalau kami berdua hanya sama-sama sibuk mencari alasan untuk saling tidak bertemu. Entah karena apa. Bahkan setiap pesan dan telfon pun terasa hambar. Yang selalu saya pikirkan setiap melihat namanya mucul dilayar ponsel saya adalah: “Oke. Ayo kita akhiri saja semuanya.”

Dan tibalah saya disini dengannya. Aneh rasanya, berdiri disampingnya tetapi masih saja merasa jauh. Seolah-olah dia tidak benar-benar ada disini. Saya tidak suka keadaan canggung ini dan semakin besar perasaan saya untuk segera mengakhiri semuanya—tanpa menyisakan apapun lagi.

“Mau minum apa?” Tanya saya—dengan sebuah senyum yang dipaksakan—saat kami tiba disebuah kafe yang sudah mulai sepi pengunjung. Kaca disekitarnya mulai berembun. Dan saya baru sadar kalau cuaca malam ini sedikit lebih dingin dari biasanya.

“Aku Americano.”

Americano. Biasanya dia memang selalu memesan kopi hitam itu dan bisa memimumnya tiga sampai empat gelas dalam sehari. Saya diam untuk beberapa waktu, masih melihat menu dan membayangkan pahitnya kopi Americano disaat bersamaan.

“Americano kan pahit. Aku ngga pernah bisa suka Americano.”

“Oh ya? Enak kok.”

Kali ini kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang saya yakini—pikiran kami sama. Ada saatnya kita bisa merasakan ketika orang terdekat kita memikirkan hal lain, seperti dia tidak ada didekat kita padahal kita sedang menatap tubuhnya dihadapan kita. Akhirnya sayapun menyebutkan pesanan kepada sang barista: “Dua Iced Americano.” Saya bisa melihat dia sedikit terkejut ketika saya menyebutkan pesanan itu.

Kami berdua masih terdiam saat kopi dingin dan pahit itu sudah ada ditangan kami masing-masing, lantas memilih keluar dari kafe dan mencari udara segar—dimanapun yang tidak terlalu banyak orang. Karena sepertinya kita tidak hanya butuh segelas kopi, tetapi juga udara yang lebih dingin dari biasanya. Tahu-tahu langkah kaki kami sudah menuju ke sebuah taman dekat kafe, sudah sangat sepi disini. Tidak terlihat ada orang lain sama sekali. Kami sama-sama terdiam sejak tadi, padahal saya yakin dia juga terus memikirkan hal yang sama. Begitu sepi dan dinginnya disini sampai saya sedikit gemetar. Saya bahkan belum memulai apapun, tetapi rasanya kami sudah sejauh ini. Lebih baik saya yang mengatakannya, ‘kan?

“Kita...” Saya menarik napas sebentar sebelum benar-benar melanjutkan. Dan saya bisa menangkap ketegangan yang sama yang dia perlihatkan dari tatapannya. “...udahan aja.” 10 detik berlalu, dia masih terdiam menunduk hingga saya kesulitan membaca wajahnya lagi.

“Kenapa?” Lagi. Kami kembali terdiam dan saya tidak tahu sudah berapa lama saya menahan napas malam ini. Kenapa rasanya sesak sekali?

“Karena…”

Ya, saya sudah mengatakannya. Ini hari terakhir kita, ‘kan? Saya masih mau mengakhirinya dengan sebuah senyuman supaya kamu bisa mengingat saya sebagai orang yang baik. Sebagai kenangan yang tidak menyakitkan.

“Dari tadi aku mau bilang hal yang sama. Ini bukan kebetulan, ‘kan?” Kali ini saya menangkap senyum getirnya. Seolah paham bahwa dia juga sudah menyiapkan diri untuk hal ini, saya memilih untuk menatapnya tanpa mengatakan apapun. Menatapnya yang mungkin untuk terakhir kali sebelum dia berbalik pergi dan menutup cerita kami.

Dia megulurkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala saya. Dan ya, dia tersenyum sekali lagi sebelum pada akhirnya benar-benar berbalik berjalan menjauhi saya. Setelah beberapa langkah menjauh dari taman ini dan dia tidak lagi melihat kebelakang, saya tahu kalau semuanya sudah berakhir. Suasana berubah menjadi lebih sepi, hanya terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang.

Sejak tadi saya belum meminum Americano yang saya pesan sama sekali, hanya menggenggamnya sampai tangan saya sedikit memutih. Untuk sesaat saya hanya memperhatikan gelas yang sudah basah karena es nya sudah mencair. Sedikit menyicip rasanya dan mengernyitkan dahi. Kemudian kaki saya terasa lemas dan tidak lagi sanggup untuk berdiri. Mungkin karena udaranya terlalu dingin dan saya lupa memakai sweater? Mungkin karena saya yang sama sekali tidak bisa meminum kopi? Entahlah. Hanya saja saya merasa sulit bernapas dan pandangan saya menjadi buram.

“Pahit.” Ucap saya pelan.

Tanpa saya sadari, satu butir air mata saya sudah jatuh disusul dengan beberapa butir lainnya lagi dan tidak mau berhenti.

—cloudsans 18 October 2019 / 17.13