cloudsans

shortstory

#ShortStory – Dear Tragic.

“Aku melihatmu hari ini. Itulah sebabnya mengapa aku semakin merindukanmu.” “Kau tahu, aku tak bermaksud melakukannya.” “Aku tahu. Maaf, mungkin aku yang terlalu egois.” “Kukira aku yang serakah. Aku ingin tetap berada disini, menjadi seperti ini. Tak mau kehilangan apapun. Bahkan aku juga menginginkanmu.” “Kau bahkan tahu bahwa kau adalah hal pertama yang paling aku inginkan di dunia ini. Takdir ini mengejutkan, bukan? Disaat kita merasakan hal yang sama, kenyataan malah meneriakkan kisah yang berbeda.” “Itu tidak akan merubah apapun, termasuk perasaanku padamu.”

—cloudsans 20 April 2015

#ShortStory – Dawn.

“Suatu saat nanti, Leam akan melihatku.” “Bermimpilah sesukamu.” “Kau tahu Leam adalah impian favoritku, Shane.” “Leam seharusnya merasa beruntung memilikimu.” “Karena aku setia?” “Ya. Karena kau adalah orang yang paling setia, dan paling tangguh yang pernah aku kenal.” “Aku tahu itu. Hehehe...” “Tapi kau juga merupakan orang paling bodoh se-galaksi.” “Karena aku mencintai Leam?” “Karena kau jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tidak menyadari keberadaanmu di dunia ini.”

—cloudsans 18 April 2015

#ShortStory – After Five Years.

10 February, 2015.

After five years since the last time we met, we finally sit next to each other again, still in the same coffee shop we used to spend our times together. You see me smiling brighter than the last time you saw me, you hear me laugh randomly through your unchanged clumsy words, and you find me happier than I used to be.

Talk about the silly weather? Tell how the people nowadays are seriously insane? State that the coffee just too sweet? Oh, take a look at their sleeves? But we are not. We talk and laugh about our love story, how you broke my heart, and remember how you said that you can't be with me anymore. Tragically, I’d still cry for the worst three months after that.

Isn’t it funny how we can laugh now about something that ever brought us to the worst state of our life, with the same exact person that we used to love yesterday? Then we slowly calm ourselves, reduce our laughter and try to gaze to each other’s eyes.

For a second, I feel that I’m living my old memory now, because it seems like there is something that still linger in my mind when I’m looking at you like this. For a second, I feel this kind of strange affection within my senses. It’s like something gonna burst out inside my stomach and it gets my heartbeat becomes abnormal and when my hands start shivering, I know that this isn’t right.

I don’t know what makes me feel this way because I’m sure, the last time I ever felt this kind of emotion is when I finally have the privilege to saw you after I haven’t met you for the last two weeks. And now, with those kinds of mixed feelings made by the scent of February, the picture of our memories that are replaying in my mind, I finally open my lips. and right before I’m about to say, I hear you scream softly through my ears... “I miss you...”

—cloudsans February 10th, 2016

#ShortStory – Look Away.

“I know you still love him,” she said as if I just killed a person with a rope. “But can you tell me the reason why do you have to stay when it’s all already gone?”

She doesn’t understand. Even me, myself, I don’t even understand why I keep on fighting with these feelings. There are some unsaid words that keep repeating on my mind and it tortures my heart. I don’t know if this is a good idea for letting me cut my own heart, with the knives that I held. But when she asked me why I still love him, I know that she thinks I am insane, and these were not good at all.

I look up the window, and my vision caught the gloomy clouds outside. Even the weather knows how it would like to be me. I should have been more careful; I should have been thrown it all after a second he left me. It should have been easier for me as an active absent-minded. But the real fact is, I still keep on every single piece on the precious black box in my heart, and everything that I do, it seems like I’ve been doing all the same exact thing just like what I used to be. Just like when he was here.

“You know, Serra. Everything is different now. You can’t always hold those things on your hand like this. You have to let it go, just like what he said to you. I’m sure that if he is here by now, he won’t feel right to see you like this.”

And I know. Once again, I know that she wants me to be happy. Because she remembers when he said that I deserve to be happy, I deserve a better life and better story than this. All I know is he gave me the best goodnight calls, the sweetest kisses, the most wanted hug, and the best love story I ever wanted. But that’s all before he’s gone. And now I’m living the scariest night, the abandoned hugs, the worst love story I would never volunteer. But sadly, I’m on it. And these pent-up feelings after he left me, after he left this world is just enough to change me from the bright A to be the gloomy Z.

But, really, am I a hundred percent wrong if I still love him? For God’s sake, I promise that I obviously want to forget all of this, if I can. I want to let go of these memories, ripe out his presence, turn off all those songs and break all the mirrors and walls that painted our name on it. But I just can’t! Who wants to be killed by silence? I guess the real me knew its answer. It would be me. If only he just stays, if only he weren’t gone, if only I didn’t yell at him, if only I didn’t cry, if only I didn’t ask him to comeback… I want to kill myself.

Rain is finally coming down to the earth, and I keep on fighting with my own invisible tears. ‘Look away’ ‘Don’t look at the rain!’ ‘Just stop being stupid, can you?’ ‘Don’t hold your tears back, let it go.’

“Ma, I want you to hug me. Please...”

—cloudsans February 14th, 2016 / 21:11

#ShortStory – FIN.

Sudah pukul 9 malam saat kami berdua akhirnya bisa menemukan waktu untuk berbicara. Beberapa minggu belakangan ini kami memang jarang bertemu karena pekerjaan kami yang hectic dan benar-benar menyita waktu, sampai jika sekalinya kami menemukan waktu untuk bertemu, kami lebih memilih beristirahat. Ya, saya tahu betul kalau kami berdua hanya sama-sama sibuk mencari alasan untuk saling tidak bertemu. Entah karena apa. Bahkan setiap pesan dan telfon pun terasa hambar. Yang selalu saya pikirkan setiap melihat namanya mucul dilayar ponsel saya adalah: “Oke. Ayo kita akhiri saja semuanya.”

Dan tibalah saya disini dengannya. Aneh rasanya, berdiri disampingnya tetapi masih saja merasa jauh. Seolah-olah dia tidak benar-benar ada disini. Saya tidak suka keadaan canggung ini dan semakin besar perasaan saya untuk segera mengakhiri semuanya—tanpa menyisakan apapun lagi.

“Mau minum apa?” Tanya saya—dengan sebuah senyum yang dipaksakan—saat kami tiba disebuah kafe yang sudah mulai sepi pengunjung. Kaca disekitarnya mulai berembun. Dan saya baru sadar kalau cuaca malam ini sedikit lebih dingin dari biasanya.

“Aku Americano.”

Americano. Biasanya dia memang selalu memesan kopi hitam itu dan bisa memimumnya tiga sampai empat gelas dalam sehari. Saya diam untuk beberapa waktu, masih melihat menu dan membayangkan pahitnya kopi Americano disaat bersamaan.

“Americano kan pahit. Aku ngga pernah bisa suka Americano.”

“Oh ya? Enak kok.”

Kali ini kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang saya yakini—pikiran kami sama. Ada saatnya kita bisa merasakan ketika orang terdekat kita memikirkan hal lain, seperti dia tidak ada didekat kita padahal kita sedang menatap tubuhnya dihadapan kita. Akhirnya sayapun menyebutkan pesanan kepada sang barista: “Dua Iced Americano.” Saya bisa melihat dia sedikit terkejut ketika saya menyebutkan pesanan itu.

Kami berdua masih terdiam saat kopi dingin dan pahit itu sudah ada ditangan kami masing-masing, lantas memilih keluar dari kafe dan mencari udara segar—dimanapun yang tidak terlalu banyak orang. Karena sepertinya kita tidak hanya butuh segelas kopi, tetapi juga udara yang lebih dingin dari biasanya. Tahu-tahu langkah kaki kami sudah menuju ke sebuah taman dekat kafe, sudah sangat sepi disini. Tidak terlihat ada orang lain sama sekali. Kami sama-sama terdiam sejak tadi, padahal saya yakin dia juga terus memikirkan hal yang sama. Begitu sepi dan dinginnya disini sampai saya sedikit gemetar. Saya bahkan belum memulai apapun, tetapi rasanya kami sudah sejauh ini. Lebih baik saya yang mengatakannya, ‘kan?

“Kita...” Saya menarik napas sebentar sebelum benar-benar melanjutkan. Dan saya bisa menangkap ketegangan yang sama yang dia perlihatkan dari tatapannya. “...udahan aja.” 10 detik berlalu, dia masih terdiam menunduk hingga saya kesulitan membaca wajahnya lagi.

“Kenapa?” Lagi. Kami kembali terdiam dan saya tidak tahu sudah berapa lama saya menahan napas malam ini. Kenapa rasanya sesak sekali?

“Karena…”

Ya, saya sudah mengatakannya. Ini hari terakhir kita, ‘kan? Saya masih mau mengakhirinya dengan sebuah senyuman supaya kamu bisa mengingat saya sebagai orang yang baik. Sebagai kenangan yang tidak menyakitkan.

“Dari tadi aku mau bilang hal yang sama. Ini bukan kebetulan, ‘kan?” Kali ini saya menangkap senyum getirnya. Seolah paham bahwa dia juga sudah menyiapkan diri untuk hal ini, saya memilih untuk menatapnya tanpa mengatakan apapun. Menatapnya yang mungkin untuk terakhir kali sebelum dia berbalik pergi dan menutup cerita kami.

Dia megulurkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala saya. Dan ya, dia tersenyum sekali lagi sebelum pada akhirnya benar-benar berbalik berjalan menjauhi saya. Setelah beberapa langkah menjauh dari taman ini dan dia tidak lagi melihat kebelakang, saya tahu kalau semuanya sudah berakhir. Suasana berubah menjadi lebih sepi, hanya terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang.

Sejak tadi saya belum meminum Americano yang saya pesan sama sekali, hanya menggenggamnya sampai tangan saya sedikit memutih. Untuk sesaat saya hanya memperhatikan gelas yang sudah basah karena es nya sudah mencair. Sedikit menyicip rasanya dan mengernyitkan dahi. Kemudian kaki saya terasa lemas dan tidak lagi sanggup untuk berdiri. Mungkin karena udaranya terlalu dingin dan saya lupa memakai sweater? Mungkin karena saya yang sama sekali tidak bisa meminum kopi? Entahlah. Hanya saja saya merasa sulit bernapas dan pandangan saya menjadi buram.

“Pahit.” Ucap saya pelan.

Tanpa saya sadari, satu butir air mata saya sudah jatuh disusul dengan beberapa butir lainnya lagi dan tidak mau berhenti.

—cloudsans 18 October 2019 / 17.13

#ShortStory – Home – 2020

Saya tidak memiliki keberanian yang cukup besar untuk sekedar menanyakan bagaimana kabarnya. Bagaimana hidupnya selama ini, setelah terakhir kali kami bertemu. Bagaimana dia menjalani hari-harinya; meskipun saya seratus kali menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri, tetapi saya harus bisa menahannya seribu kali lebih kuat lagi untuk tidak sembarangan mengetuk tombol pesan singkat dan mulai mengetikkan pertanyaan-pertanyaan bodoh kepadanya—yang saya tahu sudah menemukan kebahagiaannya.

Hari ini saya menemukan lagu yang cukup bagus, judulnya ‘Take Me Home’ dari Us The Duo. Dia tahu kalau saya selalu suka genre musik seperti itu, menenangkan. Saya memutarnya beberapa kali dan tidak sedikitpun menemukan nada sumbang disana. Tepapi semakin lama saya memutar ulang lagunya, saya merasa sedikit “tersandung” oleh liriknya.

Dulu, saya pernah membayangkan bagaimana rasanya berada di dalam rumah yang sama dengannya. Bangun di setiap pagi dan menatap wajahnya, menghabiskan setiap hari bersama dan bagaimana kami akan melakukan banyak kebiasaan yang kami lakukan bersama. Bagaimana saya akan mulai marah kalau dia sudah mulai menjentikkan korek api ke pucuk batang rokok yang dia beli di warung tetangga, bagaimana dia akan duduk di samping saya dan mendengarkan lagu yang saya sukai. Dia tidak bisa bermain gitar—dan selalu saya yang berakhir dengan menyanyikan satu atau dua buah lagu di setiap akhir pekan kami.

Ah, seharusnya saya tidak lagi mengenang semua itu, bukan? Dia masih bisa melakukan semua hal itu—hanya saja bukan dengan saya. Saat orang-orang di sekitar saya membicarakan tentang kehidupannya saat ini, dan melihat mereka tidak perduli kalau sebenarnya masih sulit bagi saya untuk mengdengarnya tanpa ada perasaan apapun. “Dia sudah bahagia. Mereka bilang anaknya memiliki wajah yang lucu dan mirip seperti Ibunya.” Iya. Seharusnya saya berhenti sejak beberapa tahun yang lalu.

Rumah.

Kenyataan bahwa saya bukanlah rumahnya sudah terlihat sejak pertama kali kami bertemu. Segala ketidakmungkinan yang kami temukan, dulu sama sekali tidak kami perdulikan. Sampai pada satu titik dimana dia menyerah, dan dia terlebih dulu menyadari hal itu—kenyataan yang sudah seharusnya tidak kami acuhkan. Semua sudah ada sejak awal, kalau saya bukanlah orangnya. Dan dia tidak akan pernah menjadi tempat untuk saya pulang.

—cloudsans 03 Desember 2020 / 10.42

#REminiscene #ShortStory – In The Name of A Friend.

Aku berharap kamu akan menyanyikan satu lagu untukku. Bukan, bukan lagu tentang orang yang sedang jatuh cinta seperti itu. Aku memikirkan tentang lagu seorang anak gembala yang nampaknya selalu bahagia meskipun dia kehabisan stok susu. Tentang bagaimana bisa orang menganggap bahwa semua lagu cinta itu bahagia. Bukankah itu bodoh?

Hey, tidak semua lagu cinta itu bernada tinggi!

Kau dengan gitarmu, dan aku dengan secangkir kopi susu hangatku. Kau dengan satu batang rokok ditengah bibirmu, dan aku dengan satu buah pulpen yang terjepit dijariku. Kau dengan kaus bolong tiga tahunmu, dan aku dengan sweater coklat pudarku. Semua orang mengira bahwa seharusnya kita dilahirkan dari rahim yang sama. Oh, ayolah itu memang harapan kita, ‘kan? Semua orang bilang kalau persahabatan kita adalah persahabatan yang terbaik. Semua orang mengatakan kalau kita seperti semangkuk sop hangat. Perumpamaan yang aneh. Tapi kukira hanya itu perumpamaan yang normal untuk kita?

Memulai hari dan menyapa malam juga bersamamu, berhasil mengayuhkan sepeda roda dua untuk pertama kalinya bersamamu, dan mencoret-coret kerah baju SMA pun juga bersamamu. 7 tahun. Dan kau adalah orang paling idiot yang mampu bertahan selama itu berteman denganku.

Sampai pada akhirnya, pesawat itu membawamu ke tempat yang jauh diseberang sana. Tempat yang aku tahu merupakan impianmu, tempat yang sempat aku benci karena membuatku tidak bisa mengayuh sepedaku sampai kesana. Tempat yang menyadarkanku bahwa jarak bisa menjadi masalah. Tapi ini impianmu, dan kau adalah sahabatku.

Kemudian yang aku tahu, kau mengirimkanku satu buah foto. Foto sederhana namun sangat sangat membuatku meledak, seorang laki-laki idiot yang sedang lompat dari pesawat, sky diving. Itu yang selalu aku inginkan, dan dia tahu betul mengenai hal ini. Sialan kau, beraninya pamer seperti ini! Tapi katanya, bukan itu yang dia maksud. Sampai kemudian aku membaca captionnya.

“Cause of the name of a ‘friend’, we can’t be together. Cause of the name of a ‘friend’, I have to hide everything. Hide my deepest fear, my greatest happiness, And my broken heart.

Do you ever noticed that I look into your eyes a little longer, hold your hand way too tight, and smile a lot brighter when I’m with you?

Don’t you know that I held everything back in my eyes, throw everything away, those that I hold the most just because of the name of a ‘friend’?

I hope you can see right through my eyes that these tears I wont show is because of us. Because of you. Because I’m in love with you.

Can you hear me? I’m in love with my best friend. Silly me and don’t ask why. Because that’s all we could be.

ㅡflavour – cause of the name of a ‘friend’”

Bodohnya, aku malah membacanya berulang-ulang. Bahkan aku tahu lagu ini dengan baik, lagu yang selalu dia nyanyikan setiap hari sambil menungguku menghabiskan sisa kopi susu. Bodohnya, aku merasakan hatiku mencelos. Seperti orang yang paling bodoh, karena aku baru menyadarinya disaat seperti ini. Bodoh karena mengira hanya aku yang paling menderita atas perasaan ini. Ya, aku juga jatuh cinta. Padanya. Sahabatku sendiri. Tapi dia adalah sahabatku. Dan aku adalah sahabat terbaik yang dia punya selama ini. Dan memang hanya itulah yang akan terjadi pada kita. Hanya sebatas itu.

*** “Hei kau tahu?” “Tidak.” “Apa menurutmu, semua lagu cinta itu selalu bahagia?” “Yah, bukankah memang seharusnya begitu?” “Kau yakin?” “Mana ada orang yang menulis lagu cinta dan bersedih? Kalau sedih namanya bukan lagu cinta!” “Lagu yang sering aku nyanyikan, Flavour. Ingat?” “Ya. Uh.. Itu memang agak sedih, sih.” “Kau tahu sekarang.” “Tapi, kenapa sih kau suka sekali dengan lagu itu? Kan masih banyak lagu cinta yang bahagia.” “Entahlah. Mungkin, karena lirik lagunya bagus.” “Hahaha apa bagusnya jatuh cinta pada sahabat sendiri? Itu akan aneh, kau tahu?” “Ya. Aku tahu.” “Memangnya ada ya, orang yang seperti itu? Oh, jangan-jangan kau...” “Bodoh...” “Hahaha!” “Sudah sana masuk! Aku masih belum menghabiskan kopi ku.” “Wow. Aku diusir rupanya. Baiklah, aku masuk ya. Goodnight!” “Night.” ***

Malam itu aku mencoba untuk tidak memikirkan hal yang lebih jauh lagi. Percakapan seperti itu harusnya tidak pernah terjadi, karena dia membuatku berpikir bahwa rasa itu benar-benar ada. Aku berpikir bahwa dia bisa saja berbicara begitu karena dia sebenarnya menyayangiku lebih dari seorang sahabat.

Bodohnya, aku membiarkan diriku membuat batas bahwa hubungan ini tidak boleh lebih dari sekedar persahabatan. Karena kenyataannya, tanpa disadari baik perasaanku dan dia sama-sama telah melampaui batas itu.

Lihat kan? Bukankah sudah aku bilang, bahwa tidak semua lagu cinta itu bahagia?

—cloudsans 19 Februari 2016 / 11:39