#TDCProject – My Almost Masterpiece.
kupikir pada awalnya tidak masalah jika aku membiarkan nya. aku kira ini bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan dan tidak perlu melibatkan sesuatu yang bernama ‘perasaan’. bukankah kau yang memulainya? memulai hal yang seharusnya tidak kau lakukan dari awal, tidak usah repot-repot mengusik perasaanku dengan hobi barumu itu. seharusnya kau tidak usah seperti itu, kau tahu? aku tidak melihat ada corak apapun dikertas putihku, sampai kau menggoreskan warna menyala disetiap lembarnya. sudah hampir menjadi satu buah buku yang sempurna, hampir menjadi buku favoritku. hampir. sebelum pada akhirnya, kau tiba-tiba berhenti menulis, mencoret semua huruf yang kau tuangkan seolah-olah semua cerita ini salah. semua warna kau ubah menjadi gelap, lalu dimana indahnya? akan kau apakan buku favoritku? mungkin bagimu aku hanyalah selembar kertas usang yang sama sekali tidak cukup untuk menuangkan semua ceritamu. dan kau menemukan sesuatu yang jauh dariku, hingga menjadi kegilaanmu. lalu untuk apa kau melukis diatas nakasku, kalau pada akhirnya kau hanya akan memandang gaun merahnya? memang, salahku juga membiarkanmu bercerita, seolah-olah itu cerita tentang kau dan aku. kecerobohanku yang mengira kau akan membuat sebuah headline bertemakan “kita” diatas puisimu. dan merupakan kebodohanku yang membiarkan diriku medengarkan semua ceritamu, membaca semua puisimu, dan melihatmu memainkan nada indahmu, yang bukanlah untukku. jadi, seperti ini? kau sengaja membuat cerita untukku yang seperti ini? baiklah. kau memang seorang penulis yang hebat, kau tahu? kau sudah melakukannya dengan sangat jahat. aku tidak “tidak apa-apa.”
—cloudsans 3 Mei 2016 / 9:21 p.m
aku hampir selalu suka membaca. aku suka membaca apa saja: baliho di jalan, brosur kredit motor, hingga catatan haruki murakami. namun, beberapa tahun ini kamu mengubahnya. aku masih suka membaca, tapi kamu dan semua cintamu menjadi genre kesukaanku. sekarang dan selamanya. Aku ingin selalu membacamu, melihat mata itu bertuliskan namaku. Indah sekali. seperti sebuah novel best-seller, tidak, cinta kita seperti novel yang tidak akan pernah terbit. tapi, itu tidak masalah. ini akan menjadi masterpiece, iya? tapi, kamu merobeknya. kamu merobek apa yang sudah kamu rangkai. menjadi serpihan dan lenyap begitu saja. Apakah yang kamu tulis tidak benar-benar dari hatimu? Apakah kamu pengarang yang hebat? Apakah kamu mencintai untuk pergi? Hebat sekali, ya. Sialnya, seseorang bisa mengingat apa yang mereka baca hingga selamanya. dan aku adalah tipe orang itu. lebih sial lagi adalah, apakah kamu bisa melupakan apa yang pernah kamu tulis? jawabannya adalah tidak, bodoh. kamu bisa merobek kertasnya, menghancurkannya. tapi sesuatu bernama memori, sebuah cerita, hal-hal itu tingga selamanya di telapak tanganmu. dan aku bersumpah, aku akan membuatmu tidak bisa tidur dengan itu.
—terdevan 4 Mei 2016 / 5:53 a.m